Strategi Pembelajaran Berbahasa Lisan dan Penerapannya melalui kegiatan Bercerita dan Dramatisasi Kreatif

1 <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

1. Bermain tebak-tebakan

Guru : “Anak-anak Ibu punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan dengan seksama, nanti kalau ada yang tau jawabannya langsung acungkan tangan dan langsung jawab, kalian mengerti?”

Siswa : “Mengerti, Bu Guru!”

Guru : “Bagus! Dengarkan, siapa aku. Aku sangat diperlukan untuk lalu lintas. Banyak tempat dan kota yang kuhubungkan. Berbagai jenis mobil lewat di punggungku. Aku dikeraskan dengan batu dan aspal. Silakan terka, siapa aku!”

Siswa : “ Jalan raya!”

Guru : “ Anak-anak Bapak punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan, Pak Guru akan melukiskan suatu benda. Siapa yang mengetahui benda yang Pak Guru maksudkan, segera acungkan tangan!”

Siswa : Siap, Pak Guru!”

Guru : “Bagus!” Dengarkan, disana ada sebuah tempat berair. Bentuknya memanjang dan berliku-liku. Air dari sana diperlukan oleh petani. Didalamnya kadang-kadang banyak ikan. Silakan terka, apa nama tempat itu!”

Siswa: “ Sungai!”

Guru : “ Anak-anak Ibu punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan, dengan seksama, nanti kalau ada yang tau jawabannya langsung acungkan tangan dan langsung jawab, kalian mengerti?”

Siswa : “ Mengerti, Bu Guru!”

Guru : “Bagus! Dengarkan, ada sejenis burung yang indah. Jenis burung ini suka menari. Bila menari, ekornya seperti kipas. Jenis burung ini sukar didapat. Silakan terka, Burung itu namanya!”

Siswa :“ Merak!”

2. Menjawab Pertanyaan

Guru : “Pak Guru akan membacakan sebuah cerita singkat. Dengarkan baik-baik karena setelah itu ada beberapa pertanyaan yang harus kalian jawab! Sekali lagi, dengarkan!”

Siswa : Siap, Pak Guru!”

Inilah teks yang dibacakan guru.

Rombongan SD Sukatani tiba berangsu-angsur di Candi Borobudur. Bus pertama tiba pukul 10.2.. Lima menit kemudian menyusul bis kedua dan ketiga secara bersama-sama sedangkan bus keempat tiba 10 menit kemudian.

“Pak, apakah semua bus telah sampai? “kata Bu Euis.

“ Sudah Bu, semua bus telah sampai dengan selamat,” jawab Pak Ujang.

“Syukur kalau begitu,” kata Bu Euis.

Guru : “ Dari cerita yang kalian dengarkan, sekarang coba jawab pertanyaan dari Pak Guru!

Siswa : “ Iya, Pak!”

Guru : “ Siapa yang bercakap-cakap dalam cerita yang telah Bapak bacakan?”

Ari : “ Saya Pak, yang bercakap-cakap tadi Bu Euis dengan Pak Ujang!”

Guru : “ Ya benar, tepat sekali jawabanmu, Ari!”

Nah pertanyaan selanjutnya, Apa yang Pak Ujang dan Bu Euis bicarakan? Untuk pertanyaan ini silahkan dijawab oleh Rini!”

Rini : “ Mereka membicarakan soal apakah semua bis telah sampai atau tidak.”

Guru : “ Ya benar Rini, Pak Ujangdan Bu Euis mengecek semua bus yang telah sampai. Selanjutnya, giliranmu Diki! Mengapa Pak Ujang dan Bu Euis membicarakan hal itu?

Diki : “ Agar tahu sudah sampai apa belum semua bus yang ikut bertamasya ke Candi Borobudur Pak!”

Guru :” Tepat sekali jawabanmu, Diki. Nah sekarang, Ani! Dimana hal itu dibicarakan?

Ani : “ Di Candi Borobudur, Pak!”

Guru : “Tepat sekali. Ok, sekarang pertanyaan terakhir, untuk Rino! Berapa jumlah Bus yang ikut bertamasya ke Candi Borobudur?”

Rino : “ 4 bus, Pak!”

Guru : “ Bagus sekali. Pertanyaan dari Bapak telah kalian jawab dengar benar. Kalian memang murid-murid yang pandai.

3. Menyelesaikan Cerita

Guru : “Temanmu yang Ibu tunjuk nanti akan bercerita. Simak baik-baik isi ceritanya sebab pada saatnya nanti Ibu akan menunjuk seorang dari kamu untuk melanjutkan cerita temanmu itu. Jelas apa yang akan kamu lakukan nanti?”

Siswa : “ Jelas, Pak.”

Guru : “Baik. Andri, Silahkan mulai bercerita.”

Andri : “Baik, Bu. Ceritanya tentang Gajah yang Ingin Kurus. Siang itu, Gaga, si gajah bertubuh besar, termenung sendirian di depan seonggok rumput. Akan tetapi, kali ini, ia terpaksa membiarkan rumput-rumput itu. Gaga mendongak ketika Merpati hinggap di pohon jati yang mulai kering. “Mengapa kau tidak mau makan rumput, Ga? Apa kamu tak lapar?” Tanya Merpati.

Gaga sebenarnya mendengar pertanyaan Merpati. Akan tetapi, ia menutup mata dan berusaha tidur. Merpati itu terbang dan hinggap di telinganya yang lebar. “Gaga, mengapa kamu tak makan? Teriaknya keras-keras.

Gaga terkejut. Ia tak menyangka Merpati akan seberani itu. Semua hewan di hutan mengenal Gaga sebagai hewan yang paling kuat. Bahkan, Singa saja takut padanya.

Guru : “ Baik, Andri. Sekarang giliran Lia melanjutkan cerita itu.”

Lia : “Gaga kemudian berdiri dan mengibas-ngibaskan telinganya yang lebar.

“Aku ingin kurus. Aku tak ingin punya badan sebesar ini. Oleh sebab itulah, aku tak ingin makan rumput. Aku akan puasa,” kata Gaga.

Merpati mengangguk-ngangguk. Sebenarnya, ia merasa kasihan pada Gaga.

“Mengapa kamu tak ingin memiliki tubuh yang besar? Bukankah dengan tubuh besar itu kamu menjadi kuat? tanya Merpati.

“Kata Kucing, jika tubuhku terlalu besar, aku tak akan dapat lari secepat kijang. Jika ada bahaya, aku tak akan menyelamatkan diri.” Gaga kemudian berlari-lari di hutan agar badannya cepat kurus.

Guru : “Bagus sekali. Ayo, Rahma lanjutkan!”

Rahma : “Tubuhmu memerlukan gizi yang cukup. Jadi, kau harus tetap makan. Jika tidak makan, kamu akan lemas dan tidak kuat berjalan lagi,” kata Sapi.

Semua hewan sudah menasehatiGaga agar mau makan seperti semula. Akan tetapi, Gaga tidak mau mendengarkan nasehat mereka.

Lama-kelamaan, Gaga terbaring lemas. Ia tak kuat lagi mengangkat badannya untuk berdiri. Akhirnya, Gaga menyerah. Ia merangkak keluar untuk mencari rumput. “Aku harus mencari makanan! Katanya lemas.

Gaga segera menyantap rumput. Ia sudah jera. Sekarang ia tak takut bertubuh besar. Ia juga tak takut tidak dapat berlari secepat kijang. Pokoknya, ia ingin kuat dan sehat. Semua hewan di hutan, gembira melihat Gaga mau makan lagi.

Guru : “Bagus, bagus! Memang, kalian jempolan dalam bercerita.”

4. Bercerita

Guru : “Selamat pagi, Anak-anak”

Siswa : “Selamat pagi, Bu Guru”

Guru : “Sesuai dengan janji Ibu tiga hari yang lalu, pada hari ini ibu akan menunjuk salah satu dari kalian untuk bercerita hari ini. Kalian sudah siap?”

Siswa : “siap, Bu!”

Guru : “Bagus, nah sekarang Ibu akan menunjuk Dimas! Nah Dimas silahkan bacakan cerita yang telah kamu siapkan. Sementara yang lain dengarkan dengan seksama cerita Dimas!”

Cerita Dimas sebagai berikut.

Kancil dan Kera

Seekor Kera asik makan pisang. Satu persatu buah pisang masak di tandan itu di petiknya. Dikupas dengan hati-hati lalu dimakannya.

Kancil ingin juga menikmati pisang itu. Bagaimana cara mengambilnya? Memintanya? Ah, pasti tidak diberi. Kancil tahu benar kera itu sangat kikir.

Kancil menemukan akal, dilemparinya kera itu dengan tanah. Kancil terus melempari Kera. Ia berusaha membuat Kera marah.

Lama-kelamaan Kera menjadi marah. Ia balik melempari Kancil. Satu-persatu buah pisang dijadikannya peluru. Kancil jadi sasaran peluru pisang.

Kancil pura-pura kesakitan, ia melompat-lompat menggerakan peluru. Kadang-kadang ia jatuh, sekali-kali iapun mengaduh kesakitan.

Kera puas. Ia pergi mencari pisang lain, ditinggalkannya kancil yang sedang mengerang-erang kesakitan. Akal bulus sang Kancil berhasil. Kera meninggalkan buah pisang itu. Kancil tinggal mengumpulkan pisang itu, lalu dimakannya dengan santai.

Siswa : menyimak dengan seksama

Guru : “Anak-anak setelah kalian mendengarkan cerita dari teman kalian Dimas, sekarang coba kalian jawab pertanyaan dari Ibu. Siapa saja pelaku dari cerita tadi?”

Ira : “kancil dan kera”

Guru : “Benar, Bagaimana sifat si Kancil?”

Wiwi : “ Kancil sifatnya pintar, lihai, licik.”

Guru : “ Bagus Wiwi, nah sebaliknya bagaimana sifat si Kera?”

Rita : “ Sifatnya kikir dan mudah dibodohi.”

Guru : “ Bagus, kalian memang murid-murid yang pintar.”

5. Memberi Petunjuk

Guru : Selamat pagi, anak-anak?

Siswa : Selamat pagi, Bu?

Guru : Sekarang kita akan belajar memberikan petunjuk tentang sesuatu yang dapat menjelaskan suatu hal yang ingin orang ketahui.

Missal : tentang jalan, cara membuat sesuatu/bisa saja tentang denah alamat kalian.

Siswa : Siap, Bu!

Guru :Tebu yang berumur 18-20 bulan dipotong, lalu daunnya dibuang dan dibersihkan. Setelah diikat dengan rapih kemudian diangkut ke pabrik.

Siswa : Terus bagaimana proses di pabrik itu, Bu?

Guru : Di pabrik, tebu-tebu itu di masukkan ke dalam mesin penggilingan. Dari penggilingan itu akan diperoleh air tebu/air gula. Selanjutnya air tebu di tampung di dalam ketel besar.

Siswa : Wah, sulit juga ya prosesnya. Terus, apa proses selanjutnya, Bu?

Guru : Air tebu dalam ketel tersebut di uapkan akhirnya yang tersisa hanya gula.

Siswa : Nah sekarang tebu itu sudah menjadi gula.

Guru : Belum selesai, anak-anak. Masih ada satu proses lagi.

Siswa : Proses apalagi, Bu?

Guru : Nah, proses terakhir adalah menaburkan obat kimia. Tujuannya untuk membentuk kristal-kristal.

Siswa : Wah, tenyata sulit juga ya.

Guru : sekarang, kalian sudah paham dan mengertikan penjelasan dari Ibu?

Siswa : ya, Bu!

6. Bertelepon

Guru : “ mari kita main telepon-teleponan. Giliran yang bertugas menelepon adalah Andini dan Rima sebagai teman Andini menerima telepon dari Andini.

Ceritanya hari ini hari minggu. Ayah dan Ibu mengajak Rima bekerja bakti. Mereka akan membersihkan lingkungan rumah bersama-sama.

Rima sedang bekerja ketika mendapat telepon dari Andini.

Andini : “Halo, selamat pagi!”

Rima : “Ya, halo. Selamat pagi!”

Andini : “Rima, ya? Ini Andini, Rim.”

Rima : “Eh, Andini. Ada apa, nih? Tumben pagi-pagi telepon.”

Andini : “Dirumahku lagi sepi. Aku main ke rumahmu, ya?”

Rima : “Boleh saja. Tapi aku sedang bekerja bakti.”

Andini : Bekerja bakti? Rajin sekali kamu, Rim!”

Rima : “Ya, supaya lingkungan kita bersih dan sehat, Din!”

Andini : “Memangmnya apa saja yang dilakukan?”

Rima : “Macam-macam. Membersihkan kamar mandi, menyapu dan mengepel lantai, membersihkan halaman, dan membersihkan got.”

Andini : “Kamu ikut melakukan semua itu?”

Rima : “Tidak. Aku tadi ditugasi merapikan kamar dan menyapu halaman.”

Andini : “ Pantas saja rumahmu selalu bersih. Aku juga betah lama-lama dirumahmu.”

Rima : “Terima kasih pujiannya. Ngomong-ngomong, kamu jadi kerumahku?”

Andini : “Jadi, tapi nanti sore saja. Aku juga mau membereskan kamarku agar rapi seperti kamarmu.”

Rima : “Nah, gitu, dong! Nanti sore aku tunggu, ya?”

Andini : “ Oke, Rim. Terima kasih, ya. Sampai ketemu nanti sore.”

7.Diskusi

Guru : “Pada hari senin kemarin kita mendengar berita bahwa kampung Deli terkena bencana alam. Veni, Leni, Ana, Linda, dan Yusuf berencana mengunjungi kampung Deli. Lalu apa yang akan mereka sumbangkan untuk membantu korban bencana alam tersebut?

Itulah yang harus mereka lakukan.

Silahkan kelima anak yang telah Bapak sebutkan mulai berdiskusi.

Veni : “Len, aku kasihan kepada penduduk kampong Deli. Akibat banjir itu mereka menderita.”

Leni : “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”

Ana : “Bagaimana kalau kita mengadakan bakti social ke sana?”

Linda : “Aku setuju, Na!”

Veni : “ Aku akan menyisihkan sebagian tabunganku.”

Ana : “Aku akan mengumpulkan pakaian pantas pakai. Aku piker, mereka sangat membutuhkannya?”

Linda : “Aku akan membeli bahan makanan untuk mereka.”

Ana : “Bagaimana denganmu Suf?”

Yusuf : “aku setuju saja. Tapi saat ini aku tidak punya apa-apa untuk aku sumbangkan.”

Leni : “tidak apa-apa, Suf. Kamu kan punya pakaian bekas. Itu saja kamu sumbangkan yang penting, kamu ikhlas.”

Yusuf : “Baiklah kalau begitu. Besok akan aku bawakan.”

8. Main Peran

Guru : “Anak-anak, mari kita coba bermain peran.”

Ketika beristirahat di sekolah, Rudi melihat Anton jatuh dari tangga. Kaki dan tangan Anton berdarah. Anton menangis. Bapak Guru menyarankan agar Anton di bawa ke Puskesmas. Rudi mengantar Anton ke Puskesmas.

Anton : “Aduh, kakiku sakit sekali!”(meringis kesakitan)

Rudi : “Tahanlah! Ayo, cepat ke Puskesmas!”

Anton : “Tidak mau. Aku takut disuntik!”

Rudi : “Tidak apa-apa. Daripada nanti kena tetanus, ayo?”

Rudi dan Anton menuju ke Puskesmas yang terletak disebelah sekolah mereka. Rudi menuju ke loket pendaftaran. Anton duduk di kursi tunggu.

Petugas : “Siapa yang sakit?”

Rudi : “Teman saya.” (menunjuk ke Anton)

Petugas : “Mengapa tangan dan kakinya terluka?”

Rudi : “Jatuh dari tangga.”

Petugas : “Siapa namanya?”

Rudi : “Anton”

Petugas : “Usianya berapa?”

Rudi : “10 tahun.”

Petugas : “Dimana alamatnya?”

Rudi : “SD 1Tanggul Angin.”

Anton : (mendekati ke loket pendaftaran)”Cepat, Pak!”

Petugas : (tersenyum) ”Sabar, Dik! Ini sudah selesai. Silahkan kalian tunggu ditempat itu.”(menunjuk bangku tunggu)

Rudi : “Terima kasih, Pak.”

Rudi dan Anton menuju ke bangku tunggu. Setelah agak lama menunggu, Anton tidak sabar. Ia mengajak Rudi pulang.

Anton : “Kita pulang saja, Rud.”

Rudi : “Lho, bagaimana, sih? Sudah mendaftar kok pulang?”

Anton : “Habis, lama sekali sih.”

Rudi : “Sabar sedikitlah, Ton.”

Anton : “Tidak bisa minta di dahulukan?”

Rudi : “Kita harus menaati peraturan, Ton. Antri, menunggu giliran.”

Petugas memanggil nama Anton. Rudi membimbing Anton menuju ke kamar periksa.

One response to this post.

  1. terimakasih infonya, saya jadi tambah ilmu tentang bercerita

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: