Bantu Anak Belajar (Matematika)

Matematika menempati dasar penting bagi khasanah keilmuan. Bila nilai matematika anak baik ada kecenderungan nilai mata pelajaran lainnya juga baik, setidaknya tidak terlalu jelek. Pada jenjang SMP/MTs, matematika bersanding dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan IPA. Pada jenjang SMA/MA, selain bersanding dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, untuk program IPA ditambah dengan Biologi, Fisika dan Kimia, untuk progaram IPS ditambah dengan Geografi, Ekonomi dan Sosiologi, sedangkan untuk program Bahasa ditambah dengan Sastra, Bahasa Asing dan Antropologi. Dalam posisi ini, matematika berperan penting dan bisa amat mematikan bagi kelulusan siswa. Betapa tidak walau nilai UN bahasa Indonesia dan Inggrisnya bagus tapi terpuruk matematikanya, tetap siswa tidak lulus dan ini kerap terjadi.

Terlepas dari pro dan kontra dari penentu kelulusan atas utamanya sejumlah mata pelajaran tersebut, dan ini sesungguhnya adalah wewenang para stakeholder dalam kebijakan sistem pendidikan, mari tengok masyarakat kita, khususnya para orang tua dan wali siswa, masyarakat perlu pengetahuan dan keterampilan mengenai peran yang dapat dilakukan untuk membantu keberhasilan belajar matematika putera-puteri mereka. Sejumlah sekolah patut mendapat pujian atas prakarsanya untuk mempertemukan tiga elemen penting dalam pendidikan ini, yakni siswa, sekolah dan orang tua/wali murid (masyarakat). Interaksi antara pihak sekolah dalam hal ini utamanya para guru (termasuk kepala sekolah) dan siswa adalah hal yang biasa terjadi, tetapi melibatkan pihak masyarakat, orang tua/wali siswa yang tergabung dalam komite atau dewan sekolah ini yang perlu lebih diberdayakan.

Pemberdaayaan peran orang tua/wali siswa adalah wacana penting. Bagaiamanapun orang tua/wali siswa adalah potensi yang amat berharga dan bisa disentuh dan dioptimalkan peran sertanya, tidak sebatas dalam hal pemenuhan materi belajar siswa, tapi lebih dari itu dapat berperan secara mental/psikologis agar anak maksimal dalam belajar. Terkait dengan ini, baik disimak kenyataan, banyak anak guru meraih sukses dalam belajar dan kehidupan. Contohnya, seorang tokoh di daerah kita, Gubernur Kalimantan Selatan, Drs. H. Rudi Arifin, MM adalah anak guru. Contoh lainya, Datu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, melahirkan juriat-juriat yang juga alim-alim, terkenal dan berjasa banyak dalam masyarakat. Kemudian juga, simak pada penayangan Google’s boys, Larry dan Sergey keduanya adalah anak tokoh-tokoh pendidik. Ini dapat terjadi karena guru sedikit banyak memahami cara mengembangkan potensi dan bakat anak. Jika pengetahuan ini diimbaskan kepada umumnya para orang tua/wali siswa tentu kurang lebihnya akan didapat hasil yang serupa.

Apa yang dapat dilakukan orang tua/wali?

1. Ada ikatan emosional dan bathin yang kuat antara orang tua dan anak. Tanggung jawab pertama pendidikan terletak pada orang tua, orang tua adalah pendidik utama. Anak itu hakikatnya putih bersih, orang tuanyalah yang membuat anak menjadi muslim, nasrani atau majusi. Ini sejalan dengan teori tabula rasa. Dengan demikian sedari dulu idealnya para orang tua, mulai daripada mencari pasangan hidup sudah meniatkan untuk mendapatkan pasangan yang tepat untuk dapat melahirkan insan-insan yang baik, kamil. Setelah hidup berumah tangga, melakukan perkawinan, hingga si istri hamil dan akhirnya melahirkan, masa-masa awal kelahiran bayi dan terus tumbuh besar dan dewasa, semua itu ada kiat-kiatnya, ada perlakuan-perlakuan khusus yang dapat diterapkan untuk melahirkan anak yang berkualaitas. Faktor genetik, ini dari pemilihan pasangan hidup, dan faktor perlakuan (treatment) mulai dari penyelengaraan perkawinan, kehamilan, kelahiran dan prooses pembesaran bayi hingga tumbuh dewasa, kedua faktor ini saling mengisi dan berpengaruh terhadap kualitas perkembangan anak.

2. Orang tua mau dan rutin memeriksa pekerjaan sekolah siswa, bukan hanya matematika tetapi juga mata pelajaran lainnya. Terlebih-lebih matematika, biasaya guru disiplin memberikan Pekerjaan Rumah (PR) dan tugas-tugas. Ingatkan anak untuk mengulang pelajaran matematika, ingatkan anak untuk mengerjakan PR atau tugas matematika mereka Tanyakan dan periksa pekerjaan dan hasil belajar matematika anak. Sebatas orang tua berkenan menanyakan hal ini saja, secara psikologis anak dapat merasakan dan turut meyakini bahwa matematika itu memang penting dan harus diperhatikan secara sungguh-sungguh, fokus dan berkonsentrasi penuh. Selebihnya, tentu ini lebih menggembirakan lagi jika orang tua mampu memberikan arahan dan bimbingan langsung secara teknis mengenai materi matematika itu sendiri. Mungkin orang tua yang berprofesi sebagai guru matematika atau IPA, dosen, punya pengalaman mempelajari dan mempraktekkan matematika, maka akan lebih leluasa langsung dapat membantu anak-anak mereka.

3. Bakat dan kreativitas anak akan berkembang optimal jika lingkungan kondusif. Sebuah keluarga yang menghargai pendidikan dalam suasana yang aman dan bebas secara psikologis dapat menghantarkan anak untuk mengembangkan bakat dan kreatifitasnya.

Menurut Semiawan, Cony dalam buku berjudul “Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah”, buku petunjuk bagi guru dan orang tua, menyatakan:

Anak akan merasa aman secara psikologis apabila:

a. Pendidik dapat menerimanya sebagaimana adanya, tanpa syarat, dengan segala kekuatan dan kelemahannya, serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya ia baik dan mampu.

b. Pendidik mengusahakan suasana di mana anak tidak merasa “dinilai” oleh orang lain. Memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sebagai ancaman, sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri. Memang kadang-kadaang pemberian penilaian tidak dapat dihindarkan dalam situasi sekolah, tetapi paling tidak harus diusahakan agar penilaian tidak bersifat atau mempunyai dampak mengancam.

c. Pendidik memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak dan melihat dari sudut pandang anak. Dalam suasana ini anak merasa aman untuk mengungkapkan kreativitasnya.

Anak akan merasakan kebebasan psikologis apabila orang tua dan guru memberi kesempatan padanya untuk mengungkapkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Sebagai makhluk sosial, mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam tindakan yang merugikan orang lain atau merugikan lingkungan tidakalah dibenarkan. Hidup dalam masyarakat menuntut seseorang untuk mengikuti aturan-aturan dan norma-norma yang berlaku.

4. Ada komunikasi yang dialogis antar orang tua dan anak terkait dengan pelajaran matematika anak. Tidak semua persoalan matematika dapat diselesaikan bersama oleh orang tua dan anak, karena adanya keterbatasan orang tua khususnya. Pada kondisi ini orang tua dan anak dapat meminta bantuan kepada pihak ketiga, mungkin guru matematika di sekolah, tenaga guru atau pembimbing/tentor matematika. Biasanya perhatian orang tua di sini dalam bentuk minta layanan jasa pemberian belajar tambahan atau les matematika kepada anak. Orang tua yang mau melakukan ini biasanya memiliki kemampuan hubungan yang baik dengan guru, pembimbing/tentor yang membimbing anak-anak mereka, sehingga ada saling tukar pendapat, diskusi dan kesepakatan mengenai kiat-kiat atau cara menyukseskan belajar matematika anak.

5. Orang tua mau meminta keterangan mengenai perkembangan dan kemajauan belajar matematika anak kepada guru matematika si anak di sekolah khususnya atau kepada pembimbing belajar matematika anak di luar sekolah. Bahkan juga orang tua dapat bertanya kepada teman-teman sekelas anaknya akan tindak tanduk dan kebiasan belajar anak di kelas atau di sekolah. Pada pokoknya orang tua harus memiliki informasi yang lengkap, akurat akan kondisi anaknya dan itu dapat ditempuh dengan berbagai cara, misalnya seperti yang telah dijelaskan atau mungkin ada cara lain lagi, silahkan kembangkan. Bentuk perhatian gigih orang tua semacam ini, secara psikologis diharapkan akan berdampak pada kesungguhan anak untuk berhasil dalam belajar matematika dan yang jelas segala bentuk persoalan terkait dengan belajar anak berpeluang untuk dapat diselesaikan dengan baik karena didukung informasi yang lengkap.

6. Orang tua juga bagus sekali seiring-sering bercerita kepada anak-anaknya akan tokoh-tokoh yang berhasil. Menceritakan dan menggarisbawahi bagian-bagian penting dari prinsip-prinsip atau kiat-kiat tokoh tersebut hingga meraih keberhasilan dalam hidupnya. Baik terhadap tokoh yang ada pada era dulu maupun tokoh yang ada pada era sekarang. Selain bisa bertutur langsung dapat juga

mengarahkan anak untuk membaca sendiri riwayat-riwayat hidup tokoh-tokoh tersebut, katakan misalanya buku tentang Rasul-rasul, Ibnu Sena, Al Khawarizmi, Albert Einsten, Sir Isaacd Newton, kemudian di era sekarang seperti buku bibiograpy Bung karno, Bung Hatta, Adam Malik dan Pak Habibie.

7. Para orang tua juga tergabung dalam komunitas komite sekolah. Antar Orang tua baik sekali berdiskusi, saling berbagi dan bertukar pikiran untuk kemajuan putera-puteri mereka. Tidak jarang melalui komunikasi antar orang tua, banyak hal-hal berharga didapatkan dan para orang tua dapat meniru tata cara orang tua lainnya untuk mengarahkan dan mendidik putera-puteri mereka hingga meraih prestasi tinggi.

8. Seiring dengan kemajuan teknologi, informasi dapat diperoleh dengan banyak cara, mulai dari hal bersifat omong-omong/lisan hingga media cetak seperti buku-buku, majalah-majalah, surat-surat kabar dan brosur-brosur atau selebaran-selebaran, kemudian media elektronika seperti radio, televisi, handphone, hingga komputer dengan internetnya. Bagi para orang tua yang sudah mapan dan maju penguasaan teknologinya, tentunya berkesempatan banyak untuk melakukan browsing di internet. Dengan media ini para orang tua akan dapat menemukan banyak informasi penting dan berharga dalam masalah pembinaan dan mendidik putera-puteri mereka, termasuk tentunya dalam hal matematika.

9. Bagaimanapun usaha kita, Tuhan jualah yang berkehendak dan berkuasa atas segalanya. Oleh karena itu, menyatakaan kelemahan diri di hadapan-Nya, menyempurnakan ikhtiar dan bertawaqal kepadaNya, semoga Dia berkenan mengabulkan segala hajat, memberikan keberkatan dan keridhaan atas usaha kita.

Demikian sekelumit ulasan mengenai hal-hal yang kiranya bermanfaat bagi masyarakat, para orang tua untuk membantu anak-anak agar berhasil dalam pelajaran, bukan hanya dalam matematika tetapi juga dalam mata pelajaran lainnya.

One response to this post.

  1. Apapun pendapat orang tentang matematika, semua hal yang ada di jagat raya ini tidak ada satupun yang terlepas dari matematika; setiap benda dan “sesuatu” ada perhitungannya masing-masing.
    Yang jelas, berhasil tidaknya seseorang dalam mempelajari matematika, akan berbanding lurus dengan kedekatannya dengan sang Pencipta

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: