MEngembangkan Kemampuan Bersastra Siswa SD

oleh : Dadan Wahidin
A. Hakikat pembelajaran sastra di SD
Apresiasi bukanlah pengetahuan sastra yang harus dihafalkan, melaikan bentuk aktifitas jiwa. Melalui apresiasi sastra idealnya siswa dapat mengindra atau merasakan kehadiran pelaku, peristiwa, suasana dan gambaran obyek secara imajinatif. Apresiasi harus mencakup tanggapan emosional pada isi cerita, tanggapan pada pelaku atau peristiwa, dan perasaan siswa dalam merasakan / menikmati gaya bahasa pengarang cerita.

Mengapresiasi perlu pergaulan langsung dengan karya sastra yang diapresiasi, agar terlatih dan terbina untuk menyenangi dan menghayati karya sastra. Pembelajaran yang hanya bersifat teoritik tak akan dapat diharapkan lahir para siswa yang mampu mengapresiasi dan memiliki minat yang baik pada karya sastra.

Disekolah dasar, pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresikan karya sastra. Kegiatan mengapresiasikan sastra berkaiatan dengan latihan mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal serta kepekaan sosial. Pengembangan kemampuan bersastra disekolah dasar dilakukan dalam berbagai jenis dan bentuk melalui kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Huck dkk. (1987 ; 630-632) bahwa pembelajarn sastra di SD harus memberi pengalaman pada siswa yang akan berkontribusi pada 4 tujuan, yakni :
1.pencarian kesenangan pada buku
2.menginterprestasikan bacaan sastra
3.mengembangkan kesadaran bersastra
4.mengembangkan apresiasi

pada waktu pembelajaran sastra, siswa diberi kesempatan memahami, menikmati dan sekaligus merespon apa yang telah mereka baca dan cara-cara yang menarik minat mereka. Pada waktu membaca, siswa belajar tentang orang lain, tentang mereka sendiri, gan kehidupannya. Siswa sering menemukan pengalaman yang mirip san seolah-olah dialaminya sendiri berkaitan dengan kesenangan, kesedihan, ketakutan, disamping itu siswa juga memperoleh wawasan pada pemecahan masalah yang berkaitan dengan dunia mereka sendiri.

Interaksi langsung dengan karya satra sangat penting karena pada waktu pembaca berhadapan teks sastra, pembaca adalah pemberi makna. Pembaca yang berbeda akan menghasilkan pemaknaan yang berbeda yang berbeda pula, sehingga tanggapan orang yang satu dengan yang lain tidak akan sama. Akibat dari perbedaan pengalaman dan pemaknaan terhadap bacaan, makna yang diperoleh dan diberikan siswa dalam mengapresiasikan sastara haruslah merupakan transaksi antara aktifitas jiwa siswa dengan kata-kata yang terangkai dalam cerita. Makna itu diciptakan dan dibentuk oleh siswa sendiri, bukan yang ditawarkan guru atau penulis buku. Guru dalam kegiatan apresiasi bukan penerjemah atau penafsir karya sastra untuk siswanya melainkan hanyalah sebagai pendorong dan pemberi rangsangan.

Menurut Amiruddin (1997;207) ada dua tugas guru dalam kegiatan apresiasi yaitu :
1.mengembangkan pengetahuan dan pengalaman siswa
2.membimbing cara berfikir pada waktu apresiasi

B. Tujuan pembelajaran apresiasi di SD
Pembelajaran apresiasi prosa di SD tidak terlepas dari tujuan pembelajaran apresiasi sastra. Menurut Huck, dkk. (1987: 704-707), menyatakan pembelajaran sastra di SD harus memberikan pengalaman pada siswa yang berkonstribusi pada 4 tujuan, yakni : (1) pencarian kesenangan pada buku (discovering delight in book), (2) menginterpretasi bacaan sastra (interpreting literature), (3) mengembangkan kesadaran bersastra (literary awarness), dan mengembangkan apresiasi (developing appreciation).
Dalam pembelajaran apresiasi prosa diperlukan perencanaan. Perencanaan pembelajaran mencakup tujuan khusus pembelajaran. Misalnya tujuan khusus pembelajaran dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) mengemukakan kembali ringkasan isi cerita sesuai dengan rangkaian cerita, pelaku cerita, dan tempat kejadian, (2) memberikan tanggapan terhadap kejadian cerita, dan (3) mengemukakan kembali ringkasan tanggapan secara lisan dengan baik dan benar
(Aminuddin, 1998: 8). Tujuan khusus pembelajaran apresiasi prosa melalui penggunaan buku bergambar meliputi: (1) siswa menceritakan pelaku cerita, (2) siswa mampu menceritakan latar dalam cerita, (3) siswa mampu menceritakan rangkaian cerita, dan (4) siswa mampu menceritakan kembali ringkasan isi cerita secara tertulis.

1.menumbukan Kesenangan Terhadap Buku
salah satu tujuan utama pembelajaran sastra di SD ialah memberi kesempatan kepada anak untuk memperoleh pengalaman dari bacaan sastra serta masuk dan terlibat dalam suatu buku. Salah satu cara terbaik untuk membuat siswa tertarik pada buku menurut Huck(1987) ialah :
1.memberi siswa lingkungan yang kaya dengan buku-buku yang baik
2.memberi siswa waktu untul membaca atau secara teratur guru membacakan buku untuk mereka
3.memperkenalkan pada siswa berbagai ragam bacaan prosa, puisi.
4.Memberi siswa waktu untuk membicarakan buku-buku, menceritakan buku itu satu sama lain dan mengiterprestasikan melalui berbagai macam aktifitas respon aktif.
5.Siswa diberikan kesempatan mengamati atau melihat orang-orang dewasa menikmati buku.

2.mengapreasiasikan literatur
untuk menciptakan letertarikan terhadap buku, siswa perlu membaca banyak buku. Siswa pun perlu memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang mendalam dengan buku-buku. Ketika siswa menghubungkan apa yang mereka baca itu dengan latar belakang pengalamannya, mereka menginternalisasikan makna cerita itu. Cara untuk membantu siswa menginterprestasikan bacaan itu dengan cara mengidentifikasi para pelaku yang ada pada cerita itu. Hal itu dapat dilakukan dengan cara mendramatisasikan adegan tertentu yang ada pada buku cerita. Kegiatan daramatisasi selain mengatkan pemahaman pada cerita juga aan melatih mereka bersosialisasi.

3.mengembangkan kesadaran bersastra
anak-anak yang masih berada disekolah dasar juga garus diajak mulai mengembangkan kesadaran pada sastra. Anak-anak harus diarahkan pula menemukan elemen-elemen sastra secara berangsur-angsur, karena elemen-elemen itu memberikan bekal kepada siswa dalam pemahaman makna cerita atau puisi. Dengan demikian guru garus menguasai pengetahuan tentang bentuk-bentuk cerita, elemen-elemen cerita dan pengetahuan tentang pengarang.

4.mengembangkan apresiasi
sasaran jangka panjang pengajaran SD ialah mengembangkan kesukaan membaca karya sastra yang bernutu. Menurut Margaret Early (dalam Huck, 1987) menyatakan bahwa terdapat tiga tahap urutan dan perkembangan yang ada dalam pertumbuhan apresiasi
1.tahap kenikmatan yang tidak sadar
2.tahap apresiasi yang masih ragu-ragu atau berada antara tahap satu dan ketiga
3.tahap kegembiraan secara sadar
tahap pertama sama dengan gagasan menumbuhkan kesenanagn membaca. Tahap ketiga tahap yang sudah matang dan menemukan kegembiraan dalam banyak jenis bacaan dari banyak periode waktu, memberikan penghargaan pada aliran dan pengarangnya dan memberikan tanggapan kritis sehingga mendapat kegembiraan secara sadar. Pengajaran sastra untuk sekolah dasar terutama kelas-kelas awal, difokuskan pada tahap yang pertama yaitu kesenangan yang tidak disadari. Guru hanyalah pemberi jalan setapak untuk masuk ke dunia indahnya sastra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: